Friday, November 28, 2008

Sebuah Kesempatan untuk Pergi Jauh

"Rrrrrrrrrrrrr..."
Gue terbangun dari tidur gue akibat suara getaran hape gue. Waktu menunjukan pukul 1 pagi. Gue menjawab telpon, "Halo.."
"Ale, ini mama..", suara nyokap gue terdengar dari seberang sana.
"Iya, ada apa ma?"
"Ale gimana? suka sama rumah di sana?"
"Lumayan.."
"Ale udah tidur ya? Sori, mama lupa kalo disana lebih cepet 3 jam."
"Gapapa, Ale tidur, soalnya masi jetlag."
"Yah udah, Ale tidur lagi gih. Besok siang mama telpon lagi. Mama kangen sekali sama Ale."
"Iya."
"Good night, sayang."
"Night ma."
/
Gue melempar hape gue ke deket bantal, lalu gue menghempas diri gue ke ranjang lagi. Gue ga bisa tidur lagi, cuma mandangin langit-langit gelap di kamar baru gue.. Di kota Brisbane...
Ya, 2 bulan lalu, gue mutusin untuk melanjutkan studi gue ke Australia. Pendidikan akademi gue di Jakarta udah selesai. Sebenernya sih pengen cari duit, gelar diploma cukup buat gue yang bakal kerja di bidang perfilman. Bahkan kebanyakan pekerja di dunia film yang sukses ga punya gelar S1. Tapi mumpung bokap nawarin buat lanjutin studi di luar negri, sebuah kesempatan untuk pergi jauh dari lingkungan gila ini. Australia, tepatnya kota Brisbane adalah tempat terjauh yang bisa dijangkau bokap gue dari segi ekonomi. Gue ga mikir 2 kali. Bahkan gue rela long distance ama pacar gue. Dan sekarang gue di sini, menghabiskan malam ke tujuh gue di Brisbane, memandangi langit-langit kamar baru gue.
/
Orang tua gue begitu bangganya, karena gue ga ribut homesick. Ga sekali pun gue nangis minta pulang selama seminggu ini karena ga betah di lingkungan yang sama sekali asing. Ga kaya sepupu-sepupu gue yang sudah mendahului gue merantau ke negeri orang, atau anak-anak dari temen-temen orang tua gue yang kebanyakan bingung karena ga bisa survive di negeri orang.
Tentu aja, hidup di sini jauh lebih gampang buat gue, dibanding hidup di lingkungan gue di Jakarta selama lebih dari 13 taun. Meskipun gue mesti ngomong dalam bahasa lain, mesti mulai dari nol, mesti adaptasi di lingkungan baru, tapi di sini ga ada yang ribut di tengah malam. Ga ada yang nanya-nanya tentang hidup gue, ga ada yang ngebanding-bandingin gue ama sepupu-sepupu gue yang cantik dan kaya. Gue ga pernah merasa segampang ini.
/
Gue mungkin sedikit egois, ninggalin nyokap kerja, ninggalin ade gue sendirian ngadepin smuanya sendiri, ninggalin bokap gue yang ga akrab ama ade gue karena dulu dia ninggalin kita, ninggalin pacar gue, temen-temen gue... I'm so sorry, tapi gue rasa ini satu-satunya cara buat nyelamatin mental gue sebelom gue gila di sana.
/
Haaahh.. Hidup begitu mudahnya di sini..
/
Begitu gampang..
/
Tapi kenapa hati gue masi terasa kosong, tetep ga bisa merasa bahagia. Mungkinkah gue mesti pergi lebih jauh lagi?

Saturday, July 19, 2008

Awal Mimpi Buruk

Gue terbangun seketika oleh kilat cahaya petir yang tak lama kemudian disusul dengan suara gemuruh petir. Gue memandang keluar jendela di samping tempat tidur gue. Hujan deras, hampir serupa badai. Gue tetap terbangun dan ga bisa tidur lagi.

Suara guntur bergemuruh lagi, lebih keras dari sebelumnya. Gue benci! Suara guntur adalah suara yang paling gue benci! Berisik, mirip kaya orang marah-marah dan teriak-teriak. Tapi semakin gue benci, gemuruh di luar sana semakin heboh bersaut-sautan. Seolah-olah mereka sedang ngeledek gue. Gue benci dan takut. Suara guntur yang menggelegar dan gemuruh itu selalu mengingatkan gue pada awal mimpi buruk di hidup gue.

Malam itu, belasan tahun yang lalu, gue terbangun oleh suara keras yang menggelegar bersaut-sautan. Bukan guntur melainkan suara orang tua gue, mereka bertengkar untuk pertama kalinya. Hari itu pertama kalinya gue denger orang tua gue berantem adu mulut. Gue yang masi 6 tahun takut setengah mati. Gue cuma bisa menutup kepala gue dengan selimut. Sedangkan adik gue masih tidur dengan nyenyaknya. Kenapa cuma gue yang mesti terbangun? Gue memutuskan untuk bangun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mereka. Mungkin dengan melihat keberadaan gue mereka akan berenti adu mulut. Gue masuk dan nangis. Tepat seperti dugaan gue, bokap nyokap gue langsung berenti berantem. Nyokap gue sih masi ngoceh sambil berjalan pergi. Bokap gue langsung menggendong dan memeluk gue. Gue masi inget apa yang dia bisikin ke telinga gue malem itu, "Jangan takut, papa sama mama tidak berantem kok. Cuma kita bicara agak keras. Ale tidur lagi ya."

Yah, mereka memang berenti untuk malam itu. Tapi seperti antibiotik yang lo konsumsi terus menerus, lama-lama tangisan gue kebal. Bahkan tangisan ade gue. Mereka teriak-teriak setiap malam, tiap minggu pasti ada gelas pecah. Gue terbiasa terbangun tengah malam dan ga bisa tidur lagi sampe pagi. Gue yang baru 7 tahun kena insomnia. Terbiasa ga tidur, sampe sekarang...

Wednesday, July 9, 2008

Gue..

Gue.. Ketika orang bertanya siapa diri kita, normalnya kita akan menjawab dengan nama kita. Begitu juga dengan gue. Gue praktis bakal jawab nama gue waktu orang lain tanya siapa gue. Vallerie, itu nama gue dan biasa gue dipanggil Alle ato Eri.
Banyak orang bilang nama seseorang adalah doa dan harapan orang tua untuk anak mereka. Begitu juga nama gue yang artinya "to be strong" - harapan orang tua gue supaya gue jadi manusia yang kuat fisik dan mental. Mungkin waktu gue lahir, mereka sudah memprediksi masa depan, tentang apa yang bakal terjadi sama gue dan keluarga gue. Mungkin karena itu mereka ngasih gue nama Vallerie.
Tapi apa lo yakin kalo lo tau diri lo terlepas dari sebuah nama. Nama hanyalah sebuah kata. Manusia lebih kompleks dari sekedar susunan huruf. Kenyataannya tidak setiap orang tau tentang dirinya, termasuk gue. Dilahirkan ke dunia yang indah ini tapi tumbuh di tengah kehidupan dan lingkungan yang tak semuanya indah menjadikan gue seorang manusia yang bingung dan punya kecenderungan bipolarisme.
Di satu sisi gue naif tapi di sisi lain gue adalah seorang yang sinis. Kata temen gue, "Siapa sih yang ga punya 2 orang dalam kepalanya." Tapi gue rasa saking bingungnya gue, gue ga tau ada berapa orang dalem kepala gue. Intinya, udah 21 tahun 5 bulan 6 hari gue hidup di dunia ini, tapi sampai sekarang, gue ga yakin gue ini siapa selain susunan huruf yang dicetak di akte lahir, ID dan pasport gue.