Gue terbangun seketika oleh kilat cahaya petir yang tak lama kemudian disusul dengan suara gemuruh petir. Gue memandang keluar jendela di samping tempat tidur gue. Hujan deras, hampir serupa badai. Gue tetap terbangun dan ga bisa tidur lagi.
Suara guntur bergemuruh lagi, lebih keras dari sebelumnya. Gue benci! Suara guntur adalah suara yang paling gue benci! Berisik, mirip kaya orang marah-marah dan teriak-teriak. Tapi semakin gue benci, gemuruh di luar sana semakin heboh bersaut-sautan. Seolah-olah mereka sedang ngeledek gue. Gue benci dan takut. Suara guntur yang menggelegar dan gemuruh itu selalu mengingatkan gue pada awal mimpi buruk di hidup gue.
Malam itu, belasan tahun yang lalu, gue terbangun oleh suara keras yang menggelegar bersaut-sautan. Bukan guntur melainkan suara orang tua gue, mereka bertengkar untuk pertama kalinya. Hari itu pertama kalinya gue denger orang tua gue berantem adu mulut. Gue yang masi 6 tahun takut setengah mati. Gue cuma bisa menutup kepala gue dengan selimut. Sedangkan adik gue masih tidur dengan nyenyaknya. Kenapa cuma gue yang mesti terbangun? Gue memutuskan untuk bangun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mereka. Mungkin dengan melihat keberadaan gue mereka akan berenti adu mulut. Gue masuk dan nangis. Tepat seperti dugaan gue, bokap nyokap gue langsung berenti berantem. Nyokap gue sih masi ngoceh sambil berjalan pergi. Bokap gue langsung menggendong dan memeluk gue. Gue masi inget apa yang dia bisikin ke telinga gue malem itu, "Jangan takut, papa sama mama tidak berantem kok. Cuma kita bicara agak keras. Ale tidur lagi ya."
Yah, mereka memang berenti untuk malam itu. Tapi seperti antibiotik yang lo konsumsi terus menerus, lama-lama tangisan gue kebal. Bahkan tangisan ade gue. Mereka teriak-teriak setiap malam, tiap minggu pasti ada gelas pecah. Gue terbiasa terbangun tengah malam dan ga bisa tidur lagi sampe pagi. Gue yang baru 7 tahun kena insomnia. Terbiasa ga tidur, sampe sekarang...
